Perkenalkan aku cowok, usia 23 tahun dengan perawakan yang lumayan membuat kaum hawa menendangku setiap saat karena kesenanganku mengganggu mereka, aku ini usil dan nggak bisa lihat orang cemberut. Aku lahir dari keluarga yang sangat harmonis, papa mama selalu rukun kakak dan adekku juga selalu ada untuk mendukungku, dan kebetulan aku adalah seorang vocalis yang bisa memainkan gitar sedikit2. Dunia seni sudah aku tekuni semenjak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebenarny orang tua kurang begitu setuju dan lebih mendukungku untuk berkonsentrasi di akademik akan tetapi kebetulan begitu banyak agency yang membujuk kedua orang tuaku, dan akhirny hati mereka luluh juga. Selama ini aku nggak menyadari dan juga sama sekali nggak merasa kalau wajahku ini menjual. Akan tetapi kebanyakan cewek terpana kalau aku berbicara dekat dengan mereka.
Semua orang tahu dunia hiburan itu sangat keras dan penuh dengan persaingan, beberapa kali aku membingtangi iklan, membentuk band dan juga ikut audisi ajang pencarian bakat. Hanya saja aku baru menyadari kalau semua ini itu percuma saja, baik modelling, iklan, ataupun bermusik, hanya begitu2 saja. Semua seakan hanya hobi yang tidak menghasilkan materi, memang itu adalah hobiku tetapi di usia seperti ini aku sudah malu kalau hanya menerima uang dari orangtua saja, penghasilanku nggak seberapa, apalagi aku masih kuliah.
Sampai saat aku benar2 merasa frustasi dengan semua ini, karena tiap kali aku mencoba untuk ikut audisi, untuk mengirimkan demo selalu gagal, sampai saat aku bercerita dengan Arya temanku. Sore itu kami maen futsal hanya untuk mencari keringat dan mengisi kekosongan waktu, teman2 yang laen udah pada cabut,
"Gimana audisi kemaren?" tanya Arya sambil lalu, aku menggeleng tersenyum mendengar pertanyaan dari Arya. Mengetahui jawaban yang sudah tersirat dari wajahku, Arya menepuk punggungku, "Biasa itu kan aku sering" kataku ceria, meskipun jujur saja di hatiku embali kecewa. "Lo tu nggak jelek tau, cuma kurang hoki aja" tawa Arya menggodaku. "Iya bener, gw butuh jimat kayany biar hoki, apapun akan gw lakuin buat ngebuktiin kalau gw bisa mendapatkan lebih" kataku sengaja dilebih2kan.
Sejak percakapan itu aku belum bertemu lagi dengan Arya, karena aku sibuk kuliah dan menunggu panggilan dari beberapa lamaran. Tiba-tiba Arya mengirim sms, pagi2 sekali, saat itu aku bru saja selesai sholat subuh. Ngapain tuh anak sms pagi2 kurang kerjaan. begini bunyi smsny, "Zi, lo mau nggak gw ajakin ke rumah pakdhe,plz gw maksa" begitu bunyinya. Anak aneh, maksa bgt tuh. Sebenarny aku sedikit malas mengantarny ke rumah pakdheny yang ada di pinggiran kota, mana aku ada kuliah. Tapi angin apa yang mendorongku, hingga aku segera mandi dan melaju dengan sepeda motorku menuju rumah Arya. Setelah di rumah Arya dia udah siap dan akhirny kami berangkat di rumah pakdhe.
Seperti biasany Arya banyak mengobrol, aku hanya menemani saja dan sedikit menimpali kalau sedang bercanda. Kemudian Pakdhe melontarkan pertanyaan yang mengejutkan "Uzi, km masih perjaka ya?" spontan Arya langsung menutup wajahny menahan tawa, mukany menyebalkan saat itu. Aku tahu pakdhe ini bukan orang biasa, karena banyak orang yang meminta tolong padany untuk menyelesaikan masalah, terutama yang berhubungan dengan dunia gaib...aku gelagapan sesaat, "Kalau dibilang perjaka mungkin iya pakdhe, pernah hampir tapi nggak jadi, jadi belum pernah belah duren ...hahaha" jawabku sedikit bercanda untuk menutupi rasa maluku pada Arya, ya Arya sudah tidak perjaka lagi sejak kelas tiga sma. Pakdhe tersenyum sesaat,
"Sebenarny nggak susah le, kowe cuma perlu berkorban dikit yang berhubungan dengan keperjakaanmu" lanjut pakdhe yang semakin membuat Arya terpingkal2. "Uzi mana mau pakdhe, dia kan bukan cowok" tawa Arya, dasar tuh anak mentang2 udah menggagahi beberapa cewek jadi sok jantan. Padahal berantem aja nggak pernah, waktu dikeroyok orang aja aku yang bantuin dia. "Zi,kalau pakdhe bilangin kowe mau nurut g?" tanya pakdhe, " Itu juga kalau kamu mau karirmu lebih bagus" tambah pakdhe lagi...Sejenak aku berpikir, bener nggak yang pakdhe bilang itu, karena aku benar2 mau melakukan apapun demi karirku dan juga demi membuat ortuku bangga. "Apa pakdhe?" tanyaku nggak peduli dengan tawa Arya yang menjadi2. "Le Zi, pakdhe tahu dengan siapa kamu seharusny melepaskan keperjakaanmu" pakdhe menhirup kopi kentalnya, diam sejenak lalu melanjutkan pembicaraan. "Ada seorang gadis yang tinggalny jauh dari sini" pakdeh membuka pembicaraan, "Cewek bule pakdhe?" tanyaku sedikit ngarep pakdhe hanya tertawa," tapi mungkin kamu sedikit kecewa le, karena gadis itu sudah bukan gadis lagi alias sudah nggak perawan" pakdhe terlihat begitu santai mengucapkan itu. Arya melongo sedangkan aku hanya diam termenung sambil berusaha untuk berkonsentrasi lagi pada pembicaraan. "Pakdhe ini, masa saya disuruh melepas keperjakaan dengan cewek yang sudah nggak virgin lagi" tawaku untuk menutupi rasa nggak karuan di hati. "Begitu garisannya le, terserah kamu mau ngikuti apa nggak itu ada di kamu sendiri, jadi ya kembali lagi ke kamu" kata pakdhe serius. "Tapi bener ya bisa buat Uzi jadi hoki gitu?" tanya Arya penasaran. "Iya, itu jalannya" pakdhe mengangguk yakin.
Perjalanan balik dari rumah pakdhe sama sekali nggak terpikir di otakku, seakan aku mengendarai sepeda motor tanpa sadar. Pikiranku kemana2, antara job, perkataan pakdhe mengenai cewek misterius yang dapat membuatku hoki dan juga Mitha cewekku. Begitu banyak cewek, mulai dari mantan sampai beberapa cewek agak nggak bener yang aku kenal, ingin melepas keperawanannya denganku, tetapi aku nggak pernah menyetujui dan nggak pernah mau untuk menanggapi mereka, bahkan Mitha yang selalu saja mengalihkan pembicaraan dengan cara yang aneh kalau aku menanyakan hal itu. Aku maklum karena Mitha belum genap 20 tahun umurnya, tapi...please deh, masa aku harus menyerahkan hal yang sangat berharga ini pada cewek yang sudah nggak itu. Arght...meskipun cowok tetapi aku juga sangat menjaga hal ini, sama seperti cewek. Ya aku ini maskulin, tetapi ada sisi sensitif sendiri apalagi yang menyangkut masa depanku...aku tertidur dengan pikiran berkecamuk.
Akhir2 ini aku kurang merasa nyaman dengan Mitha karena dia kurang jujur, dia nggak pernah menjawab dengan jujur tiap kali aku mennayakan sesuatu padanya. Seakan dia menyembunyikan sesuatu. Hanya saja saat aku di lab untuk praktikum, yang memenuhi pikiranku adalah perkataan pakdhe tentang hoki dan yang dapat membuatku mencapainya, bukannya aku musyrik atau kenapa tetapi aku sedikit banyak percaya juga karena hal seperti itu bisa saja terjadi, aku masih rajin sholat tetapi aku juga bertanya-tanya dengan kebenaran akan hal itu. Apalagi aku tinggal di kota besar jauh dari keluarga, dan au malu kalau harus mengharap uang kiriman dari mama atau papa.
"Zi mau kemana?" tanya Rio, teman satu kontrakanku, "Mau cari tugas, servernya lemot bgt di rumah" jawabku sembari menyalakan sepeda motorku.
Seminggu berlalu..belum ada tanda2 kehadiran cewek misterius itu, lama2 au bisa gila kalau seperti ini, sepertinya otakku sudah terpengaruhi omongan pakdhe. Aku jadi lebih mengamati cewek2 yang lalu lalang...sampai akhirnya aku lebih memilih untuk langsung pulang ke kontrakan saja selepas kuliah, aku nggak mau nantinya tambah gila, apalagi ditambah skripsiku yang belum selesai ini. Pikirnku harus tenang dan juga rajin.
Sumpah males banget yang namanya mendengar audisi lagi, tetapi akhir2 ini aku dengan teman2 mulai semangat untuk latihan dan membuat karya baru, seperti nya ada spirit tersendiri, masalah terdoktrin omongan pakdhe tempo hari atau nggak aku juga kurang begitu peduli, hanya saja aku mulai bersemangat untuk mengembangkan diri lagi. Okay aku buka rahasianya, sebenarnya kemaren aku habis cs dengan salah satu temanku, teman lama hanya saja teman yang belum pernah aku temui. Dan aku merasa cocok dengannya meskipun aku belum begitu mengenalnya, aku menyukai keanggunan di balik penampilannya yang sedikit berbeda, satu hal yang paling membuatku begitu tertarik padanya adalah dia mengakui tentang hal tabu itu, satu2nya cewek yang mau menceritakan rahasia tabunya padaku. Dia juga bercerita mengenai kedepresiannya karena terseret dalam lembah hitam, dank arena dia berasal dari keluarga yang baek dimata umum, dan dia juga mempunyai kakak yang sangat pantas, dalam arti dari lima bersaudara semua kakaknya sudah menjadi orang sukses. Ada yang menjadi dokter, wartawan, manager salah satu department store di kotanya, juga ada yang bekerja di kantor pemerintahan. Itu yang membuatnya semakin depresi. Nama cewek itu…sebut saja Seva, aku salut dengan keberaniannya dan juga merupakan penghargaan tersendiri bagiku karenam cewekku sendiri Mitha nggak mau jujur sama aku. Kenyataan yang cukup pahit, aku jelaskan semua. Mitha kebetulan mantan cewek dari teman kakakku, dan Mitha ternyata telah melepas keperawannya dengan dia, yang namanya Bernad. Shock dan juga down itu pasti, tetapi aku masih menyembunyikan pada Mitha, mengenai hal ini, aku masih menunggunya mengatakan hal ini padaku secara langsung, aku berharap dia jujur padaku karena aku menyayanginya. Hanya saja, Seva tampaknya cewek yang bakal aku beri keperjakaanku ini, aku mulai berpikir seperti itu, hanya saja sekarang dia sedang berada jauh di luar pulau, Seva sedang menuntut ilmu di Makassar. Seva cewek Yogyakarta asli, berumur 20 tahun dan terdiri dari lima bersaudara, katanya sih masih darah biru. Hampir setiap hari Seva selalu aku telepon, sms, dan kadang aku chatting dengannya. Yang membuatku salut dengan Seva adalah, dia sudah hamper menyelesaikan kuliahnya dan dia juga mempunyai jiwa seni. Meskipun Seva berkuliah di jurusan hokum, tetapi dia pandai melukis, hasil lukisannya benar2 membuatku terpana, aku Cuma bisa melihat dari foto ataupun gambar yang dia kirim melalui email. Aku mengaguminya saat ini, karena bagitu banyak hal yang nggak bisa aku jelaskan.
Kebetulan ini mendekati liburan semester, Seva juga bilang kalau dia mau pulang ke jogja. Aneh juga sebenarnya karena di jogja itu kan banyak universitas yang bagus baek negeri maupun swasta, tetapi Seva lebih memilih berkuliah di Makassar, dia bilang karena ingin lebih berkonsentrasi dan nggak lagi mengingat kenakalannya sewaktu di jogja. Aku benar2 deg2an menanti kedatangan Seva, dia bilang mau pergi ke kotaku dan menepati janjinya untuk datang dan melakukan sesuatu upacara sacral itu…lebay bahasaku. Semakin mendekati hari H aku semakin tidak yakin dengan kesungguhan Seva, bukannya kenapa2 aku hanya terlalu berharap mengenai karierku, aku juga nggak tahu aku ini termasuk orang jahat atau menyedihkan, intinya aku sangat opbsesi demi masa depanku dan demi kelancaran rejekiku, maksa banget ya…
Semalem aku telepon Seva dan dia terdengar sangat mengantuk, aku ingin ngobrol banyak tetapi dia lebih banyak diam dan dia juga lebih sering menanyakakn tentang Mitha dan aktivitas kuliahku. Ya sebenarnya nggak masalah sih ngomongin Mitha karena dia juga pacarku, tetapi aku hanya merasa semakin sungkan saja untuk melanjutkan misi berbahaya bin memalukan bin ngak masuk akal ini. "Va" panggilku sedikit keras karena Seva hanya terdiam mendengarkanku yang mengoceh, "Iya Zi" jawabnya dengan suarak serak yang khas, "Kamu…mmm…please Seva, kamu janji ya jangan sakitin aku" kataku begitu saja keluar dari mulut. Seva terdiam mendengar perkataankun seperti itu, kemudia dia tertawa kecil, "Ya ampun Uzi, bukannya nanti aku dan kamu yang bakalan menyakiti orang laen" kata Seva ringan tetapi cukup membuatku tersentak, ia begitu memedulikan Mitha. "Ya ampun, berapa kali aku bilang kan, sekarang yang ada hanya kita, anggap saja Mitha itu bukan siapa2 karena ia juga nggak mau jujur padaku, kamu yang bukan siapa2ku mau jujur padaku itu buatku udah lebih dari cukup untuk membuktikan siapa yang lebih" rayuan gombal tapi jujurku keluar, lagi-lagi Seva tertawa mendengarkan kata-kataku yang mungkin pasaran. "Iya, aku tahu Zi, tunggu saja ya…pasti aku akan datang kok, janji" Seva memotong pembicaraanku. "Kamu udah ngantuk?" tanyaku, "Heem" jawab Seva singkat, "Yauda, met bobo ya sayang mimpiin aku, see ya muach" kataku sebelum Seva menutup teleponnya.
Umur segini sudah cukup dewasa, istilahnya udah nggak tabu lagi kalau ngomongin yang namanya ps dan cs, itu sudah biasa, aku beberapa kali ps dan cs dengan Seva, lagunya ratu banget pokoknya Aku suka kamu suka sudah jangan bilang siapa-siapa… hahaha, kita sama2 menikmati status ini. Aku memang sudah punya Mitha tetapi Seva sekarang jomblo. Kalau dibilang semenjak akhir bulan lalu aku merasa kalau aku ini lebih menyayangi Seva daripada Mitha, memang aku ini buaya dan playboy. Kuliahku lancar, urusan band, dan iklan juga…seakan Seva member energy positif padaku dan dia juga merupakan jimat keberuntunganku.n Itu saja aku baru dekat dengannya, coba kalau aku jadi melepas keperjakaanku dengannya…mungkin saja steven spielberg langsung mengontrakku untuk main di film yang ia garap…hahaha,
Minggu pagi, aku sudah siap dengan semua kostum dan persiapan suara, aku akan perform dengan band baruku yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya, maksudnya dalam band ini kamu bener2 total dan obsesi. Aku duduk di salah satu bangku di backstage sambil menggerak-gerakkan kakiku dengan gelisah. Memang aku ini nggak demam panggung, tetapi kalau mau tampil aku pasti merasa sedikit deg2an. Kukeluarkan handphone dari saku celana kemudian yang terlintas saat itu adalah Seva, dadaku langsung hangat teringat nama itu, segera aku mengirim sms padanya
Sayang, aku mau tampil nih bentar lagi, doakan ya… pesan itu langsung terkirim.
Seva menjawabnya hanya iya pasti aku doakan,
hari itu semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan yang aku inginkan, sesampainya di rumah aku merasa sangat lelah dan langsung tertidur.
Sikap Seva yang aneh ini semakin jelas ketika tanpa sengaja aku membuka pesan dari temannya yang intinya mengritik Seva karena tidak mengundangnya di acara pertunangan Seva. Bagaikan tersambar petir aku langsung terduduk lemas mendengar berita itu. Mengapa Seva tidak pernah bercerita kalau ia bertunangan, mengapa ia selalu menyembunyikan semua itu dna berbohong padaku. Aku benar2 ingin menceritakan semua hal ini pada seseorang, siapapun salah satu temanu, tetapi aku tidak mau kalau dianggap aneh, mulai dari percaya hal2 aneh seperti tentang melepas keperjakaanku, karena kalau aku bercerita tentang Seva dan lain2, otomatis aku harus menceritakan dari awal mengapa aku lebih menyaynginya daripada Mitha pacarku sendiri. Beberapa hari ini Seva mencoba menghubungiku tetapi aku tidak menggubrisnya, aku benar-benar merasa kecewa pada Seva karena ia tidak jujur padaku, aku merasa ia mengkhianatiku, tetapi setelah aku pikir aku yang egois, aku meminta Seva menolongku, dan ia tetap menjadi kekasih rahasiaku, sementara aku masih bersama dengan Mitha, Seva tau kalau aku membagi hatiku untuknya dan Mitha tetapi ia tetap menerimanya, tanpa protes sedikitpun, kurasa ia tahu diri. Kadang memang Seva terdengar cemburu ketika aku mungkin tanpa kusengaja bercerita habis makan atau jalan sama Mitha, aku benar2 nggak memikirkan perasaan Seva saat itu, aku selalu berkata bahwa aku begitu menyayanginya dan membutuhkannya...hanya karena aku mengetahui Seva bertunangan dengan orang lain yang mungkin lebih bertanggung jawab dari aku, aku sudah memperlakukannya seperti ini. Tetapi aku terlalu egois untuk memunta maaf dan juga terlalu malu untuk mengakui bahwa di sini Sevalah yang seharusnya marah padaku.
Sebulan telah berlalu, liburan semesteran akhirnya datang juga. Akhirnya aku juga menikmati liburan yang baru akan datang, kebetulan selama tiga minggu kedepan tidak ada job. Tawaran terus datang, tetapi manager kami memutuskan untuk mengistirahatkan kami sementara supaya tidak terlalu padat dan ngedrop. Aku benar2 menahan diri untuk tidak lagi menggubris Seva dan juga tidak mencoba untuk menghubunginya lagi, tetapi tiap kali membuka fb, twitter dan ms aku selalu tergoda untuk menengoknya, dan aku juga merasa lega karena dia berkata dia merindukanku, entah rasa lega atau rasa senang atau apalah aku sendiri juga bingung sekali dengan diriku yang tampaknya mulai nggak waras. Terkadang saat aku sedang perform di atas stage aku membayangkan Seva tiba-tiba hadir melihatku di bawah, dan kalau tidak begitu aku membayangkan Seva sudah hadir di back stage menungguku selesai. Aku ingin berkonsentrasi hanya pada karierku saja, kalau masalah cewek ya, aku ingin dapat menyukai Mitha seperti dulu lagi dan mencoba untuk tidak mengingat-ingat mengenai ketidakjujurannya dan mencoba untuk melupakan Seva. Tetapi itu hanya karena perasaanku saja atau memang sebenarnya seperti itu, sikap Mitha sepertinya jauh lebih childish dan juga lebih sering berprasangka padaku, aku suka kalau cewekku peduli padaku tetapi Mitha itu sepertinya hanya peduli padaku karena aku ini bukan cowok biasa, karena aku ini banyak dikenal orang dan karena dia butuh disayang cowok yang romantis. Okay, aku ini emang romantis bgt ma dia dan aku selalu tampak menyayanginya, aku memang menyayanginya tetapi Seva juga masuk di hatiku.
Pagi tadi, Seva mencoba menelfonku, dan tentu saja aku tidak menerima telefon itu. Kemudian saat aku membuka emailku ada pesan darinya, ia bilang akan tetap datang meskipun hanya untuk minta maaf padaku, karena tidak bisa menepati janjinya,
ini inti email dari Seva,
Zi,
Iya aku tau kamu pasti marah dan merasa aku ini udah nggak nepatin janjiku ke kamu. Tapi kamu ngerti kan kondisi kita masing-masingnya gmn? Kamu disana udah punya Mitha sebagai cewekmu, dan sekarang aku juga sudah bertunangan dengan Aldy. Sekarang aku juga bingung mau gmn lagi, aku sayang bgt sama dia, tetapi aku masih belum juga lepasin kamu Zi. Aku harus bagaimana? Pokoknya aku akan tetap ke sana,titik.
Begitulah, Seva ternyata lebih jantan dari yang aku kira. Ia memang pernah berjanji padaku dan kalaupun tidak menepati ia bertekad untuk meminta maaf. Seva mengabarkan akan datang kurang lebih tiga hari lagi. AKhirnya aku sudah benar2 nggak tahan dengan diriku sendiri dan aku menelefonnya malam itu.
Aku : Assalamualaikum
Seva : Waalaikum salam Zi,
..sesaat kami hanya diam dan merasa sedikit kaku...
Aku : jadi kaku gini, oia, kenapa aku nggak diundang ke acara pertunanganmu?
Seva : Apaan sih kamu?
Aku : Aku kan cuma ngasih selamat, kok jadi sewot gitu sih?
Seva : Hhh...kalau km telfon cuma buat nambahin rasa bersalahku,
Aku : Rasa bersalah karena kamu udah tunangan dan sebagainya,
Seva hanya diam mendengar pernyataanku...
Aku : Lain kali aku telfon lagi...bye
kataku lalu menutup telfon sebelum Seva sempat protes...aku merasa nggak tau harus gmn, aku egois karena marah pada Seva yang sudah bertunangan, sementara aku sendiri juga sudah mempunyai Mitha.
Semalam managerku memberi tahu kalau ada job di bali, tentu saja aku dan teman2 senang bukan maen. Ini salah satu kesempatan untuk menampilkan yang terbaik karena di sana nanti banyak produser dan juga pencari bakat yang bakal hadir, begitu yang diberitahukan managerku. Masih satu bulan lagi waktunya, jadi aku dan teman2 punya waktu cukup untuk persiapan. Aku jarang bgt ketemu ma Mitha karena dia lebih sibuk dengan acara dengan teman2nya. Sebenarnya akunya yang males ketemu dengannya, entah kenapa aku merasa Mitha tuh terlalu kekanakan dan sangat laen dengan Seva. Jahat memang, terkadang aku begitu bingung dengan otakku dan perasaanku. Aku memikirkan semua ini hingga akhirnya jatuh tertidur,
Paginya aku terbangun karena getaran dari ponselku, dengan mata masih terpejam kuraih benda kecil itu di meja samping tempat tidur. Nama Seva berkelap-kelip di layar ponselku, aku mengangkatnya dengan ogah-ogahan tetapi sebenarnya aku senang juga karena pagi2 Seva sudah meneleponku.
Aku : Iya halo
Seva : Uziii...aku udah sampai...hehehe
Aku langsung terduduk,
Seva : Iya aku udah sampai di kota tempat kamu tinggal, aku ada di stasiun nih, hmmm...
Seva tertawa senang sekali...seakan tidak pernah terjadi perselisihan diantara kami.
Aku : Stasiun? okay sayang, tunggu ya, kamu jangan kemana2,
kataku cepat
Seva : Iya, tenang aku nggak akan kemana2, aku nggak tahu arah di sini, i'm lost without you...hehehe,
Kupikir mungkin Seva nggak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena dia akan bertemu denganku, tampak dari suaranya yang ceria.
Jarak antara rumahku dengan stasiun lumayan jauh, sekitar 30 menit perjalanan, aku naek motor seperti orang gila yang dapat SIM. Jadi, kurang dari 30 menit aku sudah sampai di stasiun, buru2 aku memarkirkan sepeda motorku dan bergegas masuk ke stasiun. Aku berlari ke peron kereta yang dari arah Yogyakarta dan akhirnya aku sampai, tetapi semua penumpang udah nggak ada, kereta juga udah bersiap untuk berangkat lagi ke Jogja. Buru2 aku mengeluarkan ponselku untuk menelfon Seva, setelah menemukan nama Seva di phonebookku aku segera menekan tombol call, baru saja menekan tombol itu, ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku menoleh penuh harap dan tersenyum manis, "Bang, aqua, sprite coca cola?" seorang pedangan asongan menawariku dagangannya... asem bener aku kirain si Seva, dimana dia ya...
hampir 20 menit menunggu nggak ada tanda2 dari Seva. Aku curiga ia hanya membohongiku,
"Nggak jauh beda ya sama di gambar" aku menengok ke samping dan akhirnya wajah yang sering aku lihat melalui dunia maya itu berdiri di sampingku. Memakai celana jeans belel, t-shirt hitam, sweater dan syal. "Dingin juga ya di sini" Seva meringis melihatku yang hanya terbengong menatapnya. Seperti yang dia bilang, kalau orang awam yang melihat, Seva memang nggak secantik dan semodis Mitha, tetapi Seva mempunyai senyuman yang manis dari hati dan juga aura yang lebih mempunyai daya tarik daripada cewek laennya. "Maaf lama" aku berdiri lalu tanpa pikir panjang aku mengajaknya keluar dari stasiun.
"Hey, mau kemana kita?" tanya Seva seraya melepas tanganku, "Aku akan mengantarmu mencari tempat untuk menginap" jawabku singkat. Jujur aku sangat canggung bertemu dengan Seva, tetapi aku menyembunyikannya. "Kamu lucu ya, nggak melakukan yang kamu bilang selama kita di telfon" Kata Seva saat menerima helm yang aku sodorkan padanya. "Apa maksudmu?" tanyaku benar2 nggak ngerti apa yang dia maksud. "Katanya mau meluk aku waktu kita tatap muka...hehehe" benar ini yang namanya Seva, nggak salah lagi karena dia begitu blak2an dan jujur... "Okay" aku turun dari motorku kemudian memeluknya begitu erat...di tengah parkiran stasiun.
Tidak persis dengan yang direncanakan akan tetapi syarat itu telah aku tepati. Akhirnya di sebuah penginapan di puncak aku melepaskan keperjakaanku pada Seva...tidak aku ceritakan dengan gamblang. Intinya aku dan Seva benar2 menikmati hal itu, kami saling menyayangi...
akan tetapi keesokan paginya Seva termenung sambil duduk di pinggir ranjang. Ia menatap jendela yang masih tertutup korden, Seva memakai baju berlapis2 karena tidak terbiasa dengan cuaca dingin di sini. "Ada apa sayang?" tanyaku, "Nggak ada" jawab Seva sambil tersenyum, tetapi matanya menampakkan kesedihan yang teramat. "Zi, sekarang semua kan udah tuntas, udah sesuai dengan kesepakan kita dulu...kupikir..." Seva memulai pembicaraan.
"Apa?" tanyaku penasaran, "Kupikir lebih baik ini jadi pertemuan pertama dan terakhir kita" kata Seva kemudian menghembuskan nafas panjang. Aku merasa kamar ini berputar2 dan telingaku berdengung mendengar perkataan Seva tadi. "Mengapa begitu?" aku mencoba untuk protes.
"Dengerin ya Uzi sayang, posisi kita udah bener2 salah. Kamu udah ada Mitha dan aku juga udah punya Aldy, tunanganku" Seva berusaha tampak tegar mengatakan hal itu. "Kamu tau nggak Zi, hubungan kita ini salah" tambahnya seraya merubah posisi duduk, menghadap ke arahku. Kemudian ia memegang tanganku. "Tidak menutup kemungkinan kalau kita ini berjodoh Seva" kataku yakin, Seva hanya tersenyum. "Bukan seperti itu Zi, kita sama2 udah dewasa, paling nggak kita hidup di dunia nyata, bukan sinetron yang dapat berjalan dan berakhir seperti yang kita inginkan" sanggahnya, "Aku mengatakn semua ini supaya kita nggak terlalu terbuai dengan hubungan yang salah ini, dan aku ingin kamu baik2 dengan Mitha" tambah Seva, "Mitha nggak seperti kamu!" sahutku cepat, "Nggak ada manusia yang sama Zi, bahkan orang kembar sekalipun, Mitha memiliki keunggulan di hal lain daripada aku, dan juga Mitha pasti bisa lebih baek dari sekarang, hanya butuh proses" Seva buru2 memotong pembicaraanku. "Selain itu ada Aldy yang sayang padaku, aku juga menyayanginya" Sevamenutup pembicaraanya.
"Kamu nggak sayang sama aku?" tanyaku egois lagi, "Sayang, aku pasti sayang kamu, karena aku mau melakukan semua ini denganmu meskipun kamu sendiri tau, aku baru sekali melakukan ini dengan orang yang telah aku hapus dari hidupku, dan juga aku melakukan ini tulus karena aku mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar suka padamu, kupikir alasan ini cukup bagimu" kata Seva panjang lebar...
Semua itu kenangan yang sampai saat ini masih keluar masuk dalam hidupku,
Seva meskipun berusaha untuk pergi dariku, tetapi tetap tidak bisa. Aku begitu menyayanginya...dan saat meninggalkan kotaku, Seva memberiku sebuah korek api, aku memang tidak merokok, akan tetapi makna korek itu laen dari Seva.
Ini seperti rasa sayangku ke kamu Zi, aku harap kamu masih ingat kata2mu yaitu jangan biarkan rasa ini hilang, mungkin kita bertemu di waktu dan cara yang salah...tapi kalaupun tuhan berkehendak laen, kita akan mendapatkan jalan yang lebih baek,
Andai aku tak ke tempat pakdhe aku juga tidak akan bertemu dengan Seva,
Pagi ini aku mengantar Seva ke stasiun dengan muka yang lebih cerah setelah semalam kami sharing dan saling mencurahkan perasaan masing-masing. "Uzi jangan lupain aku ya" pinta Seva Lirih saat aku memboncengkannya di perjalanan menuju stasiun, aku meraih tangan Seva dan meletakkannya di sekeliling pinggangku, "Seva akan selalu ada dalam hidup Uzi, percaya itu" kataku mantab, lalu nggak lama kami sampai di stasiun. Kami menunggu kereta yang akan datang sebentar lagi, Seva hanya diam saja sambil meminum softdrink yang tadi aku belikan di salah satu kios. "Hati-hati ya di kereta" aku mengelus kepala Seva, ia hanya mengangguk sambil tersenyum canggung menatapku. "Sampai kapanpun kalau kamu ingin bertemu dengan Uzi, pasti Uzi bersedia" tambahku, "Iya Uzi tenang aja ya" kata Seva lalu mengecup pipiku. Kereta dari arah Yogyakarta telah tiba, Seva mengangkat ranselnya lalu ia berjalan mundur, menjauh dariku sambil melambai… "Bye Uzi" Ia tersenyum lebar menatapku melalui jendela,
Kapan lagi aku dapat bertemu denganny...hanya saja hatiku berkata aku akan terus bertemu denganny...I hope so,
Begitulah aku kehilangan keperjakaanku, dengan cewek yang benar2 tepat dan benar2 sesuai dengan perkataan Pakdhe. Segera aku dan teman2 mendapat tawaran yang banyak, kami dikontrak oleh suatu perusahaan rekaman, mayor label juga. Harus bagaimana aku bersyukur pada Tuhan YME, selain itu juga dengan saran dari pakdhe dan tentunya Seva, malaikatku,
Karierku meroket , banyak orang yang tertarik dan menyukai bandku, selain itu aku juga lolos untuk beberapa audisi untuk iklan. Tidak bermaksud sombong atau bagaimana. Sejak saat itu aku benar2 seperti yang dikatakan pakdhe, apa ya istilahnya, sepertinya tabir yang selema ini menutupi kemampuanku langsung terbuka hingga semua orang dapat melihatnya, dan semua orang menyukainya. Tak henti-hentinya aku bersyukur pada Yang Maha Kuasa, semua ini juga melalui pertolongan dari Seva yang dengan sukarela mau membantuku. Seva, aku nggak bisa kalau harus menghapusmu dari hidupku, kamulah pembuka kunciku, kunci yang menutup pintu keberhasilanku selama ini.
By. Annas Sedayu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar