the blind side
- paramore
- linkin park
- lady gaga
- harry potter
- the blind side
Kamis, 19 November 2009
Reportase mengenai perbedaan pembelajaran sma dgn kuliah
Terlebih dahulu kita perlu mengetahui bagaimana proses pembelajaran di masing-masing tingkat pendidikan, seperti halnya di sma. Pada waktu di sma murid merasa lebih terikat oleh peraturan baik dari segi seragam sekolah yang wajib untuk dikenakan pada saat menjalankan kegiatan belajar, selain itu juga berhubungan dengan durasi dan waktu belajar. Hampir semua sma menerapkan waktu belajar sekitar delapan jam, dengan durasi tiap mata pelajarannya kurang lebih 45 menit, selain itu sehari ada sekitar tujuh hingga delapan mata pelajaran yang dipelajari. Untuk ruang kelas, di sma murid akan dikelompokkan sesuai dengan kelasnya misal kelas XII ips 2, XII ips 3 dll, tiap kelas terdiri dari 40 anak. Mereka hanya perlu masuk dalam satu ruangan kelas yang telah ditentukan dan guru dari masing-masing mata pelajaran yang masuk ke ruang kelas sesuai dengan jadwal. Semua itu tentunya sangat berbeda dengan proses belajar di kuliah, di kampus mahasiswa tidak memakai seragam hanya ada peraturan mengenai baju berkerah dan juga sepatu, itu saja tidak ditentukan sepatu apa yang harus dipakai, kemudian mengenai durasi, di kampus setiap mata kuliah berlangsung antara 100 hingga 120 menit, dan selain itu titap harinya tidak ditentukan berapa mata kuiah yang akan diajarkan, mata kuliah yang diikitu mahasiswa sesuai dengan jadwal dan sks yang mereka ambil. Para mahasiswa memang dikelompokkan ke dalam kelas-kelas sesuai dengan nim mereka, akan tetapi dalam mengikuti suatu mata kuliah mereka perlu datang ke kelas sesuai dengan yang telah ditentukan, jadi mereka berpindah dari satu ke kelas ke kelas yang lain.
Beberapa mata kuliah mungkin hampir sama dengan mata pelajaran di sma akan tetapi lebih luas materi yang diajarkan. Mungkin ada beberapa mahasiswa yang masih kurang dapat menguasai materi dikarenakan perbedaan antara cara mengajar para dosen dengan guru sewaktu mereka masih sma, tak jarang beberapa mahasiswa mengambil bimbingan belajar khusus untuk mempermudah dalam penguasaan materi yang mereka dapatkan di kampus, baik bimbingan bahasa asing (untuk membantu menguasai materi karena kebanyakan buku yang digunakan adalah cetakan dari luar negeri yang menggunakan bahasa inggris) dan juga bimbingan belajar akuntansi yang memang sulit untuk dimengerti para mahasiswa. Pengajar dari bimbingan itu kebanyakan adalah para mahasiswa tingkat atas maupun alumni. Sedangkan untuk bahasa asing para mahasiswa lebih memilih lembaga pendidikan bahasa asing yang telah terpercaya. Semua itu merupakan usaha yang dilakukan para mahasiswa sebagai salah satu proses menyesuaikan diri dari pembelajaran di sma dengan pembelajaran di kuliah. Akan tetapi tidak akan selamanya mereka mengikuti berbagai macam bimbingan belajar, karena di perkuliahan dituntut kemandirian yang lebih tinggi dari sewaktu di sma. Kemandirian dalam berbagai hal, mengenai hidup sehari-hari(untuk para mahasiswa yang merantau) dan juga untuk urusan akademik. Pada saat sma mereka tinggal mengikuti semua prosedur yang diterapkan di sekolah masing-masing akan tetapi di kuliah selain harus mengikuti prosedur mereka juga harus aktif untuk mengurusi kepentingan perkuliahan mereka, seperti halnya pengambilan mata kuliah, meminta tanda tangan pembimbing akademik dan juga pembayaran uang kuliah yang sekarang dilangsungkan di bank yang telah ditentukan universitas, sangat berbeda dengan proses di sma. Oleh karena itu, para mahasiswa perlu lebih jeli dan dapat mengambil beberapa keputusan penting yang berhubungan dengan kepentingan mereka sendiri, istilahnya semua ada di tangan sendiri, tidak tergantung sekolah maupun guru seperti pada waktu sma lagi.Kesulitan-kesulitan banyak dihadapi para mahasiswa akan tetapi lama kelamaan mereka mulai dapat menyesuaikan diri dengan dunia perkuliahan. Baik dari urusan administrasi yang lebih rumit daripada sma maupun urusan perkuliahan dengan mata kuiah yang menantang dan sangat berbeda dari sewaktu sma. Tahun pertama kuliah yaitu semester pertama dirasa cukup mengejutkan dan berat karena jam kuliah yang berbeda jauh dengan jam sekolah dulu, segi positifnya semangat belajar masih sama dengan jaman sma jadi nilai mereka masih dapat stabil. Pada tahun selanjutnya mereka sudah tidak mengalamai masalah mengenai jam dan jadwal kuliah akan tetapi untuk semangat dalam belajar sudah berubah juga karena berbagai faktor.
Memasuki dunia perkuliahan seperti memasuki sebuah kehidupan baru yang benar-benar berbeda dari semasa sekolah. Lebih bebas dan berani akan tetapi perlu diiringi tanggung jawab yang tentunya juga jauh lebih besar lagi. Tujuan utama kuliah adalah untuk menuntut ilmu, sehingga kita perlu waspada juga dengan pergaulan, karena semua itu memberikan peran penting sepanjang proses perkuliahan kita dan tentunya apabila kita mengambil suatu keputusan maka kita harus menerima segala konsekuensi yang ada.
Jumat, 16 Oktober 2009
Jablay
Seorang mahasiswa, tentuny cowok bersama beberapa teman kost dan kuliahny ternyata punya cerita yang cukup unik dan menjengkelkan saat aku mendengarny, dy itu bercerita kalau selama jomblo ternyata mereka mempunyai giliran jablay, bukan berarti mereka yang menjablay tetapi mereka memelihara jablay, alias cewek yang bisa dipakai saat diperlukan saja. Tidak sejauh itu tapi, hanya sekedar untuk ps (phone sex) dan klo mereka lagi butuh saja, tidak ada hubungan yang namany pacaran, jadi kalu sudah bosan yang tinggal dilempar aja ke teman yang lain, begitu aturan mainny. Biadab banget g sih, masa ceek dijadiin mainan kaya gitu, yang aku sayangkan di sini, cewek itu juga mau2ny dijadiin jablay, dan tau kenapa cewek itu yang tiap hari minta phone sex, padahal asala pada tau ya, cewek ibukota yang dijadiin jablay itu masih umuran anak sma...poor she,
aku g menyalahkan salah satu, bagiku semuany salah. Sampai yang buat aku gatel dengerny adalah, salah satu dari sekelompok cowok itu sampai berkata "hidupny si itu apa cuma buat ngesex aja ya, masa tiap hari minta phone sex" ya ampun...serendah itu mereka menilai cewek, tetapi kenyataanny memang cewek itu yang hampir tiap hari minta phone sex. Aku cuma bisa geleng2 kepala untuk saat ini.
Rabu, 12 Agustus 2009
Pada Seseorang
Untuk seseorang, dan untuk diriku sendiri, aku merasa sedikit aneh saja dengan seseorang akhir2 ini, aku masih bimbang dengan yang dulu tetapi seseorang yang baru ini entah mengapa bisa membuatku sedikit deg2an kalau menerima sms dari dy...bayangkan saja. Aku sendiri menganggap ini terlalu cepat untuk membuka hati lagi akan tetapi aku juga bingung, dengansemua perhatian dia aku merasa hangat dan merasa diperhatikan , merasa dia memberi perhatian lebih padaku, tetapi dy juga teman mantanku, dan aku beneran merasa g enak kalau dengan mudahny beralih dan berpaling seperti itu. Aku senang saat dia mengirim sms dan aku senang saat dia memperhatikanku, karena jujur saja ak senang diperhatikan,
Selasa, 11 Agustus 2009
Cerpen yang pernah aku tulis
Perkenalkan aku cowok, usia 23 tahun dengan perawakan yang lumayan membuat kaum hawa menendangku setiap saat karena kesenanganku mengganggu mereka, aku ini usil dan nggak bisa lihat orang cemberut. Aku lahir dari keluarga yang sangat harmonis, papa mama selalu rukun kakak dan adekku juga selalu ada untuk mendukungku, dan kebetulan aku adalah seorang vocalis yang bisa memainkan gitar sedikit2. Dunia seni sudah aku tekuni semenjak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebenarny orang tua kurang begitu setuju dan lebih mendukungku untuk berkonsentrasi di akademik akan tetapi kebetulan begitu banyak agency yang membujuk kedua orang tuaku, dan akhirny hati mereka luluh juga. Selama ini aku nggak menyadari dan juga sama sekali nggak merasa kalau wajahku ini menjual. Akan tetapi kebanyakan cewek terpana kalau aku berbicara dekat dengan mereka.
Semua orang tahu dunia hiburan itu sangat keras dan penuh dengan persaingan, beberapa kali aku membingtangi iklan, membentuk band dan juga ikut audisi ajang pencarian bakat. Hanya saja aku baru menyadari kalau semua ini itu percuma saja, baik modelling, iklan, ataupun bermusik, hanya begitu2 saja. Semua seakan hanya hobi yang tidak menghasilkan materi, memang itu adalah hobiku tetapi di usia seperti ini aku sudah malu kalau hanya menerima uang dari orangtua saja, penghasilanku nggak seberapa, apalagi aku masih kuliah.
Sampai saat aku benar2 merasa frustasi dengan semua ini, karena tiap kali aku mencoba untuk ikut audisi, untuk mengirimkan demo selalu gagal, sampai saat aku bercerita dengan Arya temanku. Sore itu kami maen futsal hanya untuk mencari keringat dan mengisi kekosongan waktu, teman2 yang laen udah pada cabut,
"Gimana audisi kemaren?" tanya Arya sambil lalu, aku menggeleng tersenyum mendengar pertanyaan dari Arya. Mengetahui jawaban yang sudah tersirat dari wajahku, Arya menepuk punggungku, "Biasa itu kan aku sering" kataku ceria, meskipun jujur saja di hatiku embali kecewa. "Lo tu nggak jelek tau, cuma kurang hoki aja" tawa Arya menggodaku. "Iya bener, gw butuh jimat kayany biar hoki, apapun akan gw lakuin buat ngebuktiin kalau gw bisa mendapatkan lebih" kataku sengaja dilebih2kan.
Sejak percakapan itu aku belum bertemu lagi dengan Arya, karena aku sibuk kuliah dan menunggu panggilan dari beberapa lamaran. Tiba-tiba Arya mengirim sms, pagi2 sekali, saat itu aku bru saja selesai sholat subuh. Ngapain tuh anak sms pagi2 kurang kerjaan. begini bunyi smsny, "Zi, lo mau nggak gw ajakin ke rumah pakdhe,plz gw maksa" begitu bunyinya. Anak aneh, maksa bgt tuh. Sebenarny aku sedikit malas mengantarny ke rumah pakdheny yang ada di pinggiran kota, mana aku ada kuliah. Tapi angin apa yang mendorongku, hingga aku segera mandi dan melaju dengan sepeda motorku menuju rumah Arya. Setelah di rumah Arya dia udah siap dan akhirny kami berangkat di rumah pakdhe.
Seperti biasany Arya banyak mengobrol, aku hanya menemani saja dan sedikit menimpali kalau sedang bercanda. Kemudian Pakdhe melontarkan pertanyaan yang mengejutkan "Uzi, km masih perjaka ya?" spontan Arya langsung menutup wajahny menahan tawa, mukany menyebalkan saat itu. Aku tahu pakdhe ini bukan orang biasa, karena banyak orang yang meminta tolong padany untuk menyelesaikan masalah, terutama yang berhubungan dengan dunia gaib...aku gelagapan sesaat, "Kalau dibilang perjaka mungkin iya pakdhe, pernah hampir tapi nggak jadi, jadi belum pernah belah duren ...hahaha" jawabku sedikit bercanda untuk menutupi rasa maluku pada Arya, ya Arya sudah tidak perjaka lagi sejak kelas tiga sma. Pakdhe tersenyum sesaat,
"Sebenarny nggak susah le, kowe cuma perlu berkorban dikit yang berhubungan dengan keperjakaanmu" lanjut pakdhe yang semakin membuat Arya terpingkal2. "Uzi mana mau pakdhe, dia kan bukan cowok" tawa Arya, dasar tuh anak mentang2 udah menggagahi beberapa cewek jadi sok jantan. Padahal berantem aja nggak pernah, waktu dikeroyok orang aja aku yang bantuin dia. "Zi,kalau pakdhe bilangin kowe mau nurut g?" tanya pakdhe, " Itu juga kalau kamu mau karirmu lebih bagus" tambah pakdhe lagi...Sejenak aku berpikir, bener nggak yang pakdhe bilang itu, karena aku benar2 mau melakukan apapun demi karirku dan juga demi membuat ortuku bangga. "Apa pakdhe?" tanyaku nggak peduli dengan tawa Arya yang menjadi2. "Le Zi, pakdhe tahu dengan siapa kamu seharusny melepaskan keperjakaanmu" pakdhe menhirup kopi kentalnya, diam sejenak lalu melanjutkan pembicaraan. "Ada seorang gadis yang tinggalny jauh dari sini" pakdeh membuka pembicaraan, "Cewek bule pakdhe?" tanyaku sedikit ngarep pakdhe hanya tertawa," tapi mungkin kamu sedikit kecewa le, karena gadis itu sudah bukan gadis lagi alias sudah nggak perawan" pakdhe terlihat begitu santai mengucapkan itu. Arya melongo sedangkan aku hanya diam termenung sambil berusaha untuk berkonsentrasi lagi pada pembicaraan. "Pakdhe ini, masa saya disuruh melepas keperjakaan dengan cewek yang sudah nggak virgin lagi" tawaku untuk menutupi rasa nggak karuan di hati. "Begitu garisannya le, terserah kamu mau ngikuti apa nggak itu ada di kamu sendiri, jadi ya kembali lagi ke kamu" kata pakdhe serius. "Tapi bener ya bisa buat Uzi jadi hoki gitu?" tanya Arya penasaran. "Iya, itu jalannya" pakdhe mengangguk yakin.
Perjalanan balik dari rumah pakdhe sama sekali nggak terpikir di otakku, seakan aku mengendarai sepeda motor tanpa sadar. Pikiranku kemana2, antara job, perkataan pakdhe mengenai cewek misterius yang dapat membuatku hoki dan juga Mitha cewekku. Begitu banyak cewek, mulai dari mantan sampai beberapa cewek agak nggak bener yang aku kenal, ingin melepas keperawanannya denganku, tetapi aku nggak pernah menyetujui dan nggak pernah mau untuk menanggapi mereka, bahkan Mitha yang selalu saja mengalihkan pembicaraan dengan cara yang aneh kalau aku menanyakan hal itu. Aku maklum karena Mitha belum genap 20 tahun umurnya, tapi...please deh, masa aku harus menyerahkan hal yang sangat berharga ini pada cewek yang sudah nggak itu. Arght...meskipun cowok tetapi aku juga sangat menjaga hal ini, sama seperti cewek. Ya aku ini maskulin, tetapi ada sisi sensitif sendiri apalagi yang menyangkut masa depanku...aku tertidur dengan pikiran berkecamuk.
Akhir2 ini aku kurang merasa nyaman dengan Mitha karena dia kurang jujur, dia nggak pernah menjawab dengan jujur tiap kali aku mennayakan sesuatu padanya. Seakan dia menyembunyikan sesuatu. Hanya saja saat aku di lab untuk praktikum, yang memenuhi pikiranku adalah perkataan pakdhe tentang hoki dan yang dapat membuatku mencapainya, bukannya aku musyrik atau kenapa tetapi aku sedikit banyak percaya juga karena hal seperti itu bisa saja terjadi, aku masih rajin sholat tetapi aku juga bertanya-tanya dengan kebenaran akan hal itu. Apalagi aku tinggal di kota besar jauh dari keluarga, dan au malu kalau harus mengharap uang kiriman dari mama atau papa.
"Zi mau kemana?" tanya Rio, teman satu kontrakanku, "Mau cari tugas, servernya lemot bgt di rumah" jawabku sembari menyalakan sepeda motorku.
Seminggu berlalu..belum ada tanda2 kehadiran cewek misterius itu, lama2 au bisa gila kalau seperti ini, sepertinya otakku sudah terpengaruhi omongan pakdhe. Aku jadi lebih mengamati cewek2 yang lalu lalang...sampai akhirnya aku lebih memilih untuk langsung pulang ke kontrakan saja selepas kuliah, aku nggak mau nantinya tambah gila, apalagi ditambah skripsiku yang belum selesai ini. Pikirnku harus tenang dan juga rajin.
Sumpah males banget yang namanya mendengar audisi lagi, tetapi akhir2 ini aku dengan teman2 mulai semangat untuk latihan dan membuat karya baru, seperti nya ada spirit tersendiri, masalah terdoktrin omongan pakdhe tempo hari atau nggak aku juga kurang begitu peduli, hanya saja aku mulai bersemangat untuk mengembangkan diri lagi. Okay aku buka rahasianya, sebenarnya kemaren aku habis cs dengan salah satu temanku, teman lama hanya saja teman yang belum pernah aku temui. Dan aku merasa cocok dengannya meskipun aku belum begitu mengenalnya, aku menyukai keanggunan di balik penampilannya yang sedikit berbeda, satu hal yang paling membuatku begitu tertarik padanya adalah dia mengakui tentang hal tabu itu, satu2nya cewek yang mau menceritakan rahasia tabunya padaku. Dia juga bercerita mengenai kedepresiannya karena terseret dalam lembah hitam, dank arena dia berasal dari keluarga yang baek dimata umum, dan dia juga mempunyai kakak yang sangat pantas, dalam arti dari lima bersaudara semua kakaknya sudah menjadi orang sukses. Ada yang menjadi dokter, wartawan, manager salah satu department store di kotanya, juga ada yang bekerja di kantor pemerintahan. Itu yang membuatnya semakin depresi. Nama cewek itu…sebut saja Seva, aku salut dengan keberaniannya dan juga merupakan penghargaan tersendiri bagiku karenam cewekku sendiri Mitha nggak mau jujur sama aku. Kenyataan yang cukup pahit, aku jelaskan semua. Mitha kebetulan mantan cewek dari teman kakakku, dan Mitha ternyata telah melepas keperawannya dengan dia, yang namanya Bernad. Shock dan juga down itu pasti, tetapi aku masih menyembunyikan pada Mitha, mengenai hal ini, aku masih menunggunya mengatakan hal ini padaku secara langsung, aku berharap dia jujur padaku karena aku menyayanginya. Hanya saja, Seva tampaknya cewek yang bakal aku beri keperjakaanku ini, aku mulai berpikir seperti itu, hanya saja sekarang dia sedang berada jauh di luar pulau, Seva sedang menuntut ilmu di Makassar. Seva cewek Yogyakarta asli, berumur 20 tahun dan terdiri dari lima bersaudara, katanya sih masih darah biru. Hampir setiap hari Seva selalu aku telepon, sms, dan kadang aku chatting dengannya. Yang membuatku salut dengan Seva adalah, dia sudah hamper menyelesaikan kuliahnya dan dia juga mempunyai jiwa seni. Meskipun Seva berkuliah di jurusan hokum, tetapi dia pandai melukis, hasil lukisannya benar2 membuatku terpana, aku Cuma bisa melihat dari foto ataupun gambar yang dia kirim melalui email. Aku mengaguminya saat ini, karena bagitu banyak hal yang nggak bisa aku jelaskan.
Kebetulan ini mendekati liburan semester, Seva juga bilang kalau dia mau pulang ke jogja. Aneh juga sebenarnya karena di jogja itu kan banyak universitas yang bagus baek negeri maupun swasta, tetapi Seva lebih memilih berkuliah di Makassar, dia bilang karena ingin lebih berkonsentrasi dan nggak lagi mengingat kenakalannya sewaktu di jogja. Aku benar2 deg2an menanti kedatangan Seva, dia bilang mau pergi ke kotaku dan menepati janjinya untuk datang dan melakukan sesuatu upacara sacral itu…lebay bahasaku. Semakin mendekati hari H aku semakin tidak yakin dengan kesungguhan Seva, bukannya kenapa2 aku hanya terlalu berharap mengenai karierku, aku juga nggak tahu aku ini termasuk orang jahat atau menyedihkan, intinya aku sangat opbsesi demi masa depanku dan demi kelancaran rejekiku, maksa banget ya…
Semalem aku telepon Seva dan dia terdengar sangat mengantuk, aku ingin ngobrol banyak tetapi dia lebih banyak diam dan dia juga lebih sering menanyakakn tentang Mitha dan aktivitas kuliahku. Ya sebenarnya nggak masalah sih ngomongin Mitha karena dia juga pacarku, tetapi aku hanya merasa semakin sungkan saja untuk melanjutkan misi berbahaya bin memalukan bin ngak masuk akal ini. "Va" panggilku sedikit keras karena Seva hanya terdiam mendengarkanku yang mengoceh, "Iya Zi" jawabnya dengan suarak serak yang khas, "Kamu…mmm…please Seva, kamu janji ya jangan sakitin aku" kataku begitu saja keluar dari mulut. Seva terdiam mendengar perkataankun seperti itu, kemudia dia tertawa kecil, "Ya ampun Uzi, bukannya nanti aku dan kamu yang bakalan menyakiti orang laen" kata Seva ringan tetapi cukup membuatku tersentak, ia begitu memedulikan Mitha. "Ya ampun, berapa kali aku bilang kan, sekarang yang ada hanya kita, anggap saja Mitha itu bukan siapa2 karena ia juga nggak mau jujur padaku, kamu yang bukan siapa2ku mau jujur padaku itu buatku udah lebih dari cukup untuk membuktikan siapa yang lebih" rayuan gombal tapi jujurku keluar, lagi-lagi Seva tertawa mendengarkan kata-kataku yang mungkin pasaran. "Iya, aku tahu Zi, tunggu saja ya…pasti aku akan datang kok, janji" Seva memotong pembicaraanku. "Kamu udah ngantuk?" tanyaku, "Heem" jawab Seva singkat, "Yauda, met bobo ya sayang mimpiin aku, see ya muach" kataku sebelum Seva menutup teleponnya.
Umur segini sudah cukup dewasa, istilahnya udah nggak tabu lagi kalau ngomongin yang namanya ps dan cs, itu sudah biasa, aku beberapa kali ps dan cs dengan Seva, lagunya ratu banget pokoknya Aku suka kamu suka sudah jangan bilang siapa-siapa… hahaha, kita sama2 menikmati status ini. Aku memang sudah punya Mitha tetapi Seva sekarang jomblo. Kalau dibilang semenjak akhir bulan lalu aku merasa kalau aku ini lebih menyayangi Seva daripada Mitha, memang aku ini buaya dan playboy. Kuliahku lancar, urusan band, dan iklan juga…seakan Seva member energy positif padaku dan dia juga merupakan jimat keberuntunganku.n Itu saja aku baru dekat dengannya, coba kalau aku jadi melepas keperjakaanku dengannya…mungkin saja steven spielberg langsung mengontrakku untuk main di film yang ia garap…hahaha,
Minggu pagi, aku sudah siap dengan semua kostum dan persiapan suara, aku akan perform dengan band baruku yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya, maksudnya dalam band ini kamu bener2 total dan obsesi. Aku duduk di salah satu bangku di backstage sambil menggerak-gerakkan kakiku dengan gelisah. Memang aku ini nggak demam panggung, tetapi kalau mau tampil aku pasti merasa sedikit deg2an. Kukeluarkan handphone dari saku celana kemudian yang terlintas saat itu adalah Seva, dadaku langsung hangat teringat nama itu, segera aku mengirim sms padanya
Sayang, aku mau tampil nih bentar lagi, doakan ya… pesan itu langsung terkirim.
Seva menjawabnya hanya iya pasti aku doakan,
hari itu semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan yang aku inginkan, sesampainya di rumah aku merasa sangat lelah dan langsung tertidur.
Sikap Seva yang aneh ini semakin jelas ketika tanpa sengaja aku membuka pesan dari temannya yang intinya mengritik Seva karena tidak mengundangnya di acara pertunangan Seva. Bagaikan tersambar petir aku langsung terduduk lemas mendengar berita itu. Mengapa Seva tidak pernah bercerita kalau ia bertunangan, mengapa ia selalu menyembunyikan semua itu dna berbohong padaku. Aku benar2 ingin menceritakan semua hal ini pada seseorang, siapapun salah satu temanu, tetapi aku tidak mau kalau dianggap aneh, mulai dari percaya hal2 aneh seperti tentang melepas keperjakaanku, karena kalau aku bercerita tentang Seva dan lain2, otomatis aku harus menceritakan dari awal mengapa aku lebih menyaynginya daripada Mitha pacarku sendiri. Beberapa hari ini Seva mencoba menghubungiku tetapi aku tidak menggubrisnya, aku benar-benar merasa kecewa pada Seva karena ia tidak jujur padaku, aku merasa ia mengkhianatiku, tetapi setelah aku pikir aku yang egois, aku meminta Seva menolongku, dan ia tetap menjadi kekasih rahasiaku, sementara aku masih bersama dengan Mitha, Seva tau kalau aku membagi hatiku untuknya dan Mitha tetapi ia tetap menerimanya, tanpa protes sedikitpun, kurasa ia tahu diri. Kadang memang Seva terdengar cemburu ketika aku mungkin tanpa kusengaja bercerita habis makan atau jalan sama Mitha, aku benar2 nggak memikirkan perasaan Seva saat itu, aku selalu berkata bahwa aku begitu menyayanginya dan membutuhkannya...hanya karena aku mengetahui Seva bertunangan dengan orang lain yang mungkin lebih bertanggung jawab dari aku, aku sudah memperlakukannya seperti ini. Tetapi aku terlalu egois untuk memunta maaf dan juga terlalu malu untuk mengakui bahwa di sini Sevalah yang seharusnya marah padaku.
Sebulan telah berlalu, liburan semesteran akhirnya datang juga. Akhirnya aku juga menikmati liburan yang baru akan datang, kebetulan selama tiga minggu kedepan tidak ada job. Tawaran terus datang, tetapi manager kami memutuskan untuk mengistirahatkan kami sementara supaya tidak terlalu padat dan ngedrop. Aku benar2 menahan diri untuk tidak lagi menggubris Seva dan juga tidak mencoba untuk menghubunginya lagi, tetapi tiap kali membuka fb, twitter dan ms aku selalu tergoda untuk menengoknya, dan aku juga merasa lega karena dia berkata dia merindukanku, entah rasa lega atau rasa senang atau apalah aku sendiri juga bingung sekali dengan diriku yang tampaknya mulai nggak waras. Terkadang saat aku sedang perform di atas stage aku membayangkan Seva tiba-tiba hadir melihatku di bawah, dan kalau tidak begitu aku membayangkan Seva sudah hadir di back stage menungguku selesai. Aku ingin berkonsentrasi hanya pada karierku saja, kalau masalah cewek ya, aku ingin dapat menyukai Mitha seperti dulu lagi dan mencoba untuk tidak mengingat-ingat mengenai ketidakjujurannya dan mencoba untuk melupakan Seva. Tetapi itu hanya karena perasaanku saja atau memang sebenarnya seperti itu, sikap Mitha sepertinya jauh lebih childish dan juga lebih sering berprasangka padaku, aku suka kalau cewekku peduli padaku tetapi Mitha itu sepertinya hanya peduli padaku karena aku ini bukan cowok biasa, karena aku ini banyak dikenal orang dan karena dia butuh disayang cowok yang romantis. Okay, aku ini emang romantis bgt ma dia dan aku selalu tampak menyayanginya, aku memang menyayanginya tetapi Seva juga masuk di hatiku.
Pagi tadi, Seva mencoba menelfonku, dan tentu saja aku tidak menerima telefon itu. Kemudian saat aku membuka emailku ada pesan darinya, ia bilang akan tetap datang meskipun hanya untuk minta maaf padaku, karena tidak bisa menepati janjinya,
ini inti email dari Seva,
Zi,
Iya aku tau kamu pasti marah dan merasa aku ini udah nggak nepatin janjiku ke kamu. Tapi kamu ngerti kan kondisi kita masing-masingnya gmn? Kamu disana udah punya Mitha sebagai cewekmu, dan sekarang aku juga sudah bertunangan dengan Aldy. Sekarang aku juga bingung mau gmn lagi, aku sayang bgt sama dia, tetapi aku masih belum juga lepasin kamu Zi. Aku harus bagaimana? Pokoknya aku akan tetap ke sana,titik.
Begitulah, Seva ternyata lebih jantan dari yang aku kira. Ia memang pernah berjanji padaku dan kalaupun tidak menepati ia bertekad untuk meminta maaf. Seva mengabarkan akan datang kurang lebih tiga hari lagi. AKhirnya aku sudah benar2 nggak tahan dengan diriku sendiri dan aku menelefonnya malam itu.
Aku : Assalamualaikum
Seva : Waalaikum salam Zi,
..sesaat kami hanya diam dan merasa sedikit kaku...
Aku : jadi kaku gini, oia, kenapa aku nggak diundang ke acara pertunanganmu?
Seva : Apaan sih kamu?
Aku : Aku kan cuma ngasih selamat, kok jadi sewot gitu sih?
Seva : Hhh...kalau km telfon cuma buat nambahin rasa bersalahku,
Aku : Rasa bersalah karena kamu udah tunangan dan sebagainya,
Seva hanya diam mendengar pernyataanku...
Aku : Lain kali aku telfon lagi...bye
kataku lalu menutup telfon sebelum Seva sempat protes...aku merasa nggak tau harus gmn, aku egois karena marah pada Seva yang sudah bertunangan, sementara aku sendiri juga sudah mempunyai Mitha.
Semalam managerku memberi tahu kalau ada job di bali, tentu saja aku dan teman2 senang bukan maen. Ini salah satu kesempatan untuk menampilkan yang terbaik karena di sana nanti banyak produser dan juga pencari bakat yang bakal hadir, begitu yang diberitahukan managerku. Masih satu bulan lagi waktunya, jadi aku dan teman2 punya waktu cukup untuk persiapan. Aku jarang bgt ketemu ma Mitha karena dia lebih sibuk dengan acara dengan teman2nya. Sebenarnya akunya yang males ketemu dengannya, entah kenapa aku merasa Mitha tuh terlalu kekanakan dan sangat laen dengan Seva. Jahat memang, terkadang aku begitu bingung dengan otakku dan perasaanku. Aku memikirkan semua ini hingga akhirnya jatuh tertidur,
Paginya aku terbangun karena getaran dari ponselku, dengan mata masih terpejam kuraih benda kecil itu di meja samping tempat tidur. Nama Seva berkelap-kelip di layar ponselku, aku mengangkatnya dengan ogah-ogahan tetapi sebenarnya aku senang juga karena pagi2 Seva sudah meneleponku.
Aku : Iya halo
Seva : Uziii...aku udah sampai...hehehe
Aku langsung terduduk,
Seva : Iya aku udah sampai di kota tempat kamu tinggal, aku ada di stasiun nih, hmmm...
Seva tertawa senang sekali...seakan tidak pernah terjadi perselisihan diantara kami.
Aku : Stasiun? okay sayang, tunggu ya, kamu jangan kemana2,
kataku cepat
Seva : Iya, tenang aku nggak akan kemana2, aku nggak tahu arah di sini, i'm lost without you...hehehe,
Kupikir mungkin Seva nggak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena dia akan bertemu denganku, tampak dari suaranya yang ceria.
Jarak antara rumahku dengan stasiun lumayan jauh, sekitar 30 menit perjalanan, aku naek motor seperti orang gila yang dapat SIM. Jadi, kurang dari 30 menit aku sudah sampai di stasiun, buru2 aku memarkirkan sepeda motorku dan bergegas masuk ke stasiun. Aku berlari ke peron kereta yang dari arah Yogyakarta dan akhirnya aku sampai, tetapi semua penumpang udah nggak ada, kereta juga udah bersiap untuk berangkat lagi ke Jogja. Buru2 aku mengeluarkan ponselku untuk menelfon Seva, setelah menemukan nama Seva di phonebookku aku segera menekan tombol call, baru saja menekan tombol itu, ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku menoleh penuh harap dan tersenyum manis, "Bang, aqua, sprite coca cola?" seorang pedangan asongan menawariku dagangannya... asem bener aku kirain si Seva, dimana dia ya...
hampir 20 menit menunggu nggak ada tanda2 dari Seva. Aku curiga ia hanya membohongiku,
"Nggak jauh beda ya sama di gambar" aku menengok ke samping dan akhirnya wajah yang sering aku lihat melalui dunia maya itu berdiri di sampingku. Memakai celana jeans belel, t-shirt hitam, sweater dan syal. "Dingin juga ya di sini" Seva meringis melihatku yang hanya terbengong menatapnya. Seperti yang dia bilang, kalau orang awam yang melihat, Seva memang nggak secantik dan semodis Mitha, tetapi Seva mempunyai senyuman yang manis dari hati dan juga aura yang lebih mempunyai daya tarik daripada cewek laennya. "Maaf lama" aku berdiri lalu tanpa pikir panjang aku mengajaknya keluar dari stasiun.
"Hey, mau kemana kita?" tanya Seva seraya melepas tanganku, "Aku akan mengantarmu mencari tempat untuk menginap" jawabku singkat. Jujur aku sangat canggung bertemu dengan Seva, tetapi aku menyembunyikannya. "Kamu lucu ya, nggak melakukan yang kamu bilang selama kita di telfon" Kata Seva saat menerima helm yang aku sodorkan padanya. "Apa maksudmu?" tanyaku benar2 nggak ngerti apa yang dia maksud. "Katanya mau meluk aku waktu kita tatap muka...hehehe" benar ini yang namanya Seva, nggak salah lagi karena dia begitu blak2an dan jujur... "Okay" aku turun dari motorku kemudian memeluknya begitu erat...di tengah parkiran stasiun.
Tidak persis dengan yang direncanakan akan tetapi syarat itu telah aku tepati. Akhirnya di sebuah penginapan di puncak aku melepaskan keperjakaanku pada Seva...tidak aku ceritakan dengan gamblang. Intinya aku dan Seva benar2 menikmati hal itu, kami saling menyayangi...
akan tetapi keesokan paginya Seva termenung sambil duduk di pinggir ranjang. Ia menatap jendela yang masih tertutup korden, Seva memakai baju berlapis2 karena tidak terbiasa dengan cuaca dingin di sini. "Ada apa sayang?" tanyaku, "Nggak ada" jawab Seva sambil tersenyum, tetapi matanya menampakkan kesedihan yang teramat. "Zi, sekarang semua kan udah tuntas, udah sesuai dengan kesepakan kita dulu...kupikir..." Seva memulai pembicaraan.
"Apa?" tanyaku penasaran, "Kupikir lebih baik ini jadi pertemuan pertama dan terakhir kita" kata Seva kemudian menghembuskan nafas panjang. Aku merasa kamar ini berputar2 dan telingaku berdengung mendengar perkataan Seva tadi. "Mengapa begitu?" aku mencoba untuk protes.
"Dengerin ya Uzi sayang, posisi kita udah bener2 salah. Kamu udah ada Mitha dan aku juga udah punya Aldy, tunanganku" Seva berusaha tampak tegar mengatakan hal itu. "Kamu tau nggak Zi, hubungan kita ini salah" tambahnya seraya merubah posisi duduk, menghadap ke arahku. Kemudian ia memegang tanganku. "Tidak menutup kemungkinan kalau kita ini berjodoh Seva" kataku yakin, Seva hanya tersenyum. "Bukan seperti itu Zi, kita sama2 udah dewasa, paling nggak kita hidup di dunia nyata, bukan sinetron yang dapat berjalan dan berakhir seperti yang kita inginkan" sanggahnya, "Aku mengatakn semua ini supaya kita nggak terlalu terbuai dengan hubungan yang salah ini, dan aku ingin kamu baik2 dengan Mitha" tambah Seva, "Mitha nggak seperti kamu!" sahutku cepat, "Nggak ada manusia yang sama Zi, bahkan orang kembar sekalipun, Mitha memiliki keunggulan di hal lain daripada aku, dan juga Mitha pasti bisa lebih baek dari sekarang, hanya butuh proses" Seva buru2 memotong pembicaraanku. "Selain itu ada Aldy yang sayang padaku, aku juga menyayanginya" Sevamenutup pembicaraanya.
"Kamu nggak sayang sama aku?" tanyaku egois lagi, "Sayang, aku pasti sayang kamu, karena aku mau melakukan semua ini denganmu meskipun kamu sendiri tau, aku baru sekali melakukan ini dengan orang yang telah aku hapus dari hidupku, dan juga aku melakukan ini tulus karena aku mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar suka padamu, kupikir alasan ini cukup bagimu" kata Seva panjang lebar...
Semua itu kenangan yang sampai saat ini masih keluar masuk dalam hidupku,
Seva meskipun berusaha untuk pergi dariku, tetapi tetap tidak bisa. Aku begitu menyayanginya...dan saat meninggalkan kotaku, Seva memberiku sebuah korek api, aku memang tidak merokok, akan tetapi makna korek itu laen dari Seva.
Ini seperti rasa sayangku ke kamu Zi, aku harap kamu masih ingat kata2mu yaitu jangan biarkan rasa ini hilang, mungkin kita bertemu di waktu dan cara yang salah...tapi kalaupun tuhan berkehendak laen, kita akan mendapatkan jalan yang lebih baek,
Andai aku tak ke tempat pakdhe aku juga tidak akan bertemu dengan Seva,
Pagi ini aku mengantar Seva ke stasiun dengan muka yang lebih cerah setelah semalam kami sharing dan saling mencurahkan perasaan masing-masing. "Uzi jangan lupain aku ya" pinta Seva Lirih saat aku memboncengkannya di perjalanan menuju stasiun, aku meraih tangan Seva dan meletakkannya di sekeliling pinggangku, "Seva akan selalu ada dalam hidup Uzi, percaya itu" kataku mantab, lalu nggak lama kami sampai di stasiun. Kami menunggu kereta yang akan datang sebentar lagi, Seva hanya diam saja sambil meminum softdrink yang tadi aku belikan di salah satu kios. "Hati-hati ya di kereta" aku mengelus kepala Seva, ia hanya mengangguk sambil tersenyum canggung menatapku. "Sampai kapanpun kalau kamu ingin bertemu dengan Uzi, pasti Uzi bersedia" tambahku, "Iya Uzi tenang aja ya" kata Seva lalu mengecup pipiku. Kereta dari arah Yogyakarta telah tiba, Seva mengangkat ranselnya lalu ia berjalan mundur, menjauh dariku sambil melambai… "Bye Uzi" Ia tersenyum lebar menatapku melalui jendela,
Kapan lagi aku dapat bertemu denganny...hanya saja hatiku berkata aku akan terus bertemu denganny...I hope so,
Begitulah aku kehilangan keperjakaanku, dengan cewek yang benar2 tepat dan benar2 sesuai dengan perkataan Pakdhe. Segera aku dan teman2 mendapat tawaran yang banyak, kami dikontrak oleh suatu perusahaan rekaman, mayor label juga. Harus bagaimana aku bersyukur pada Tuhan YME, selain itu juga dengan saran dari pakdhe dan tentunya Seva, malaikatku,
Karierku meroket , banyak orang yang tertarik dan menyukai bandku, selain itu aku juga lolos untuk beberapa audisi untuk iklan. Tidak bermaksud sombong atau bagaimana. Sejak saat itu aku benar2 seperti yang dikatakan pakdhe, apa ya istilahnya, sepertinya tabir yang selema ini menutupi kemampuanku langsung terbuka hingga semua orang dapat melihatnya, dan semua orang menyukainya. Tak henti-hentinya aku bersyukur pada Yang Maha Kuasa, semua ini juga melalui pertolongan dari Seva yang dengan sukarela mau membantuku. Seva, aku nggak bisa kalau harus menghapusmu dari hidupku, kamulah pembuka kunciku, kunci yang menutup pintu keberhasilanku selama ini.
By. Annas Sedayu
Second year in smaga
Pas kelas dua di smaga juju raja ya aku sempat rada menyesal juga kenapa gitu milih masuk ips, padahal jelas lebih bergengsi masuk ipa. Pas kelas satu itu aku kan peringkat ke 20 di kelas, gara2 lebih sibuk latihan taekwondo gitu dan ngurusin hal2 g penting gitu pokokny, alhasil aku Cuma dapat peringkat segitu, tapi cukuplah kalau masuk ke ipa. Dan akhirnya papaku yang kebetulan juga di bidang akuntansi menyarankan untuk masuk ips aja daripada nanti di ipa ngotot gitu, dan juga dengan segala pertimbangan akhirnya aku memilih untuk masuk ips. Banyak guru yang menasehati gitu kenapa juga masuk ke ips padahal nilainy bisa kalau buat masuk ke ipa, yauda aku jawab aja karena aku g bisa fisika (dan itu jujur) aku beneran males klo disuruh belajar dan les fisika. Sedangkan di ips hafalanku juga menyedihkan asliny, dari kecil aku lebih ke eksak daripada ke hafalan jadi yam au bagaimana lagi langkah udah aku ambil yaudah aku jalani saja masa2 di ips. Ternyata di ips itu asyik banget. Temen2ny asik guru2ny juga asik pokokny beda dari anak2 ipa yang tekesan lebih tegang alias lebih serius ke pelajaran,
Beda banget pokokny sama anak2 ips yang santai tetapi lebih social, disinilah aku menemukan kebersamaan dan juga menemukan arti saling bantu, apabila salah satu susah yang lain membantu, dan juga di ips itu guru dan murid seperti teman. Ada beberapa guru yang lucu jayus gitu pokokny, salah satuny adalah bakabon, yang nama asliny ak g ingat…hahaha. Bakabon tuh guru PPKN dan pokokny g mutu banget klo ngajar tuh kaya cerita sendiri, bukan bikin ngantuk tapi bikin bĂȘte pokokny, dan bakabon tuh aneh banget, masa dia tuh kalau menilai sama sekali g dipikir, jadi kalau jawaban kita sama dengan buku persis, pasti dikasih nilai yng bagus tapi kalau jawabny pake kata2 kita sendiri dy tuh malah ngasih nilai yang jelek, padahal tau g isiny tuh sama. Selain bakabon ada juga guru yang udah tua gitu mau pension. Beliau adalah guru bahasa inggris, dan kalau mengajar…wah bener2 deh, masa kalau ada yang rame gitu dy dukda banget ngomong gini, contohny ya misalny aku rame, dia pasti bilang gini, "ANNAS don't talk too much start doing your task" padahal tau g, g ada yang perlu untuk dikerjakan, aneh banget guru satu itu
Aku Bukan Player
Kembali lagi ke pokok permasalahan tadi, yaitu anggapan orang mengenai aku ini player, salah besar.
Minggu, 09 Agustus 2009
Something weird
Crush,
masalah crush kok aku jadi merasa sedikit greng dengan yang tadi ya, aku emrasa laen aja dari cara dy yang berkata dan cara dy peduli karena mungkin culture juga yang beda. Dy cendeurng cuek seperti si ciput tapi dy beda, dan ada sesuatu yang ada di dy yang buat aku lebih tertarik aja. Terserah mau anggap aku ini cewek apaan akan tetapi aku g bisa bohong, apa ini emosi sesaat apa berlanjut aku juga g tau. Yang jelas aku merasa sedikit aneh saja klo deketan gt dan dari cara dy yang perhatian, aku sih g mau terlalu geer ya tapi aku juga butuh seseorang karena jujur saja aku g tahan klo hidup sendirian, beneran. Banyak alasan yang buat aku g tahan hidup sendirian. Bukan masalah kebutuhan fisik saja lho, jujur ya i love kiss, dan aku katany termasuk great kisser (kata mantanku) karena entah kenapa dengan sebuah ciuman aku merasa itu adalah kontak fisik yang dalam meskipun hanya melalui bibir, dengan catatan tidak merambah ke hal yang lebih dari sekedar berciuman, sungguh benar2 luar biasa dan aku g akan pernah bosan berciuman, aku menikmati setiap sensasinya. Kembali ke pokok permasalahan, kok malah ngomongin soal ciuman gitu sih...hahaha,
Masalah aku yang g tahan sendirian alias single adalah karena aku g suka dikenal2in ke cowok2 yang aku g interest, dan aku g suka diajakin kenalan orang2 yang aku juga g tertarik untuk ngobrol, pilih2 teman itu perlu karena aku merasakan sendiri. Oke aku mau temenan sama siapa saja dana ku suka banyak teman, hanya saja klo buat teman cowok apalagi yang baru kenal aku g suka klo mengharap lebih dari aku, karena aku emang orangny gini, welcome dan mudah akrab tetapi kalau dianggap semua itu lebih aku g suka. Makasi deh buat temen2 yang berusaha mencarikan kenalan, tetapi aku ingin cari sendiri yang lebih sreg dan lebih aku interest.
Aku hanya ingin terserah padaku begitu, dalam urusan mencari cowok, dan satu lagi aku jadi sedikit interest ma si itu :P
Sabtu, 08 Agustus 2009
Merasa
Kembali ke pokok yang akan aku bicarakan, intinya aku masih merasa belum jelas banget akrena tau g masa ini hanya sepihak tanpa ada pertimbangan langsung dari aku dan tanpa ada kesempatan untuk membela diri. Aku ingin tahu semua alasan dan semua yang ia pikirkan tentang aku dan alasan mengapa memutuskanku begitu saja dan seakan g mau mengenalku lagi. Bahkan menyapaku juga tidak sama sekali, seakan aku ini benda mati yang hanya dilewatkan saja. Masih adakah rasa sayangny padaku dan rasa yang selalu ia ucapkan setiap kalai setelah ia menciumku menyentuhku dan memelukku, dan semua janji yang hingga kini belum ada yang terwujud, aku tak butuh pelunasan semua itu...HANYA DENGAN BERSAMANYA SAJA AKU SUDAH LEBIH DARI SENANG...dan ini pengalaman yang benar2 luar biasa saat aku duduk di depan laptopny d kamar kost mendengarkan lagu dari the S.I.G.I.T yang berjudul ALL THE TIME dan lagu itu mempunyai makna yang sangat dalam meskipun dikemas dalam balutan music rock n roll, dan ia menyanyikan semua lirikny untukku, dan saat yang don't you realize forever means together... itu benar2 menyentuh hatiku dan ada satu lagi lagu yaitu NO WHERE ENDS yang dia jelaskan maknany padaku saat itu. Tidakkah masih ada sedikit yang tersimpan. Kalau semua ini hanya pura2, mengapa aku merasa itu berasal dari dalam hatiny mengapa aku merasa dia begitu sungguh2 tiap kali berkata padaku...begitu banyak perkataan yang akan aku lontarkan padany tetapi tiap kali bertatap muka hanya diam seribu bahasa mendingan aku yang menyapa, dia tidak sama sekali, bahkan menatapku saja juga tidak. Tiap sapaanku hanya berakhir dengan kekecewaan yang mendalam, tetapi aku tak bosan untuk menyapany seperti itu, kalaupun dia sudah ingin berteman berarti dia haruz bersikap biasa saja, tidak seakan bermusuhan seperti itu. Aku ingin dia menjelaskan padaku apa kesalahanku apa ayng membuatny memutuskan secara sepihak seperti itu. Kalau dia ingin aku dapat yang lebih baik, tiu salah, karena apapun yang dia punya seperti apapun dia aku tetap padany. Meskipun ia tak dapat menemaniku setiap hari, tak dapat mengantar dan menjemputku tak dapat menemaniku nonton bioskop atau apa...AKU TETAP PADANYA...dan tidak ada alasan untuk merubah itu, karena hanya bersamany aku menemukan bagian hati yang hilang itu saja,
Selasa, 04 Agustus 2009
Ciputra Ade M
Sabtu, 01 Agustus 2009
Malam dan dini hari ini
Tahukan kalian semua, hingga kini tiap kali aku bertemu, memandang , aku tak dapat bernafas, aku tak tdapat berucap dan aku tak menyangka ia sejahat itu. Apa yang harus kuperbuat, aku tak tahu apakaha ku menilainy terlalu tinggi, kunilai terlalu baik dan kunilai terlalu hebat hingga aku masih belum dapat percaya ia hanya seperti itu yang tega membuangku meninggalkan rasa perih ini ya Allah, bantu aku, bantu aku untuk mengungkap rasa. Aku salah kalau terlalu menyayanginy tetapi tiap sentuhanny bahkan tiap perkataanny bisikan yang dia hembuskan di telingaku begitu mendamaikan dan begitu membuatku yakin ketulusany menyayangiku. Tetapi mengapa seperti ini sekarang seakan aku tak dianggapny sama sekali, tak ada satu patah katapun untukku apalagi bisikan yang kuharapkan. Bahkan ia tidak mau membicarakan semua ini denganku, hanya lewat sms dia pikir cukup. Sejahat itukah dia hingga dia pikir penyelesaian seperti itu adalah jalan terbaik, dan yang membuat aku benar2 shock saat dia dengan santainy bergombal2an dengan seseorang yang g aku kenal...perih bgt rasany.